
Ia menceritakan betapa beratnya bekerja dihotel, jadwal kerja yang mengharuskannya tiba dijakarta pukul tujuh menjadikan ia harus berangkat dari bogor pukul 4 pagi dan bangun pukul 3 dini hari, tak jarang ia melaksanakan shalat di bis karena hampir tidak ada waktu untuk hal itu, hingga suatu ketika dipagi hari yang buta ia bertemu dengan seorang ustadz yang hendak tahriman menjelang subuh iapun mendapat sedikit tamparan ringan dari ustadz itu karena menurut ustadz itu apa yang dilakukannya sangat kurang tepat.
Mendengar ceritanya saya juga teringat dengan kisah saya sendiri, ketika itu saya mendapat tugas mengajar di daerah kemanggisan, saya juga diharuskan untuk berada disekolah tepat pukul tujuh, rumah saya yang berada di bogor juga mengharuskan saya untuk berangkat sangat pagi, begitu patuhnya saya akan jadwal tersebut.
Saya yakin ada banyak sekali kisah serupa yang terjadi di muka bumi ini, kisah yang menandakan betapa patuhnya kita sebagai manusia kepada manusia lainnya hanya karena mereka memiliki kekuasaan lebih daripada kita, kita selalu sangat ta'at hanya karena mereka membayar kita beberapa keping saja, kita selalu bersedia menjalankan perintah dari para manusia-manusia karna mereka telah membeli raga kita hanya dengan segenggam uang. padahal apa yang mereka tawarkan tidaklah banyak bahkan hanya sedikit atau bahkan sangat sangat sedikit dibandingkan dengan rizky yang Allah SWT telah berikan kepada kita.
Coba bandingkad dengan keta'atan kita kepada Allah dibandingkan dengan ketaan kita kepada manusia-manusia tadi, kita bahkan tidak pernah ingat dengan jadwal shalat yang sudah ditetapkan sejak dahulu kala, tapi betapa kita akan segera ingat dengan perubahan jadwal atau penetapan jadwal masuk kantor yang baru dibuat kemarin sore.
Kita akan dengan tergesa-gesa mempersiapkan diri untuk berangkat menuju kantor agar tidak terlambat masuk kerja tapi betapa santainya kita ketika waktu shalat itu tiba.
Begitu salah seorang teman kita terlambat datang maka kita akan dengan sangat bangga mengolok-ngolok teman kita atau bahkan mengingatkannya dengan tegas, tapi ketika saudara kita sesama muslim melakukan kemaksiatan, kita hanya akan terdiam seribu bahasa padahal kewajiban untuk saling mengingatkan adalah sangat jelas yaitu wajib.
Ingatlah wahai saudaraku, Allah tidak menawarkan pemotongan gaji bagi siapa saja yang melanggar perintahnya, Allah tidak menawarkan skorsing jika kita lalai atas perintahnya, tapi Allah tawarkan sebuah kecelakaan, sebuah siksa, sebuah siksa yang teramat pedih.
Tapi kenapa kita lebih takut gaji kita dipangkas daripada disiksa???
Allahu 'alam


