Sabtu, 02 Januari 2010

Begitu Mudahnya Kita Patuh Kepada Manusia


Pagi tadi sebelum berangkat bekerja, saya dan kawan saya berbincang-bincang seputar jaman baheula (masa lalu). banyak sekali yang kami obrolkan mulai dari yang ringan-ringan hingga kepada perkara yang lumayan berat, hingga tibalah ia pada sebuah cerita ketika ia bekerja disalah satu hotel dijakarta.
Ia menceritakan betapa beratnya bekerja dihotel, jadwal kerja yang mengharuskannya tiba dijakarta pukul tujuh menjadikan ia harus berangkat dari bogor pukul 4 pagi dan bangun pukul 3 dini hari, tak jarang ia melaksanakan shalat di bis karena hampir tidak ada waktu untuk hal itu, hingga suatu ketika dipagi hari yang buta ia bertemu dengan seorang ustadz yang hendak tahriman menjelang subuh iapun mendapat sedikit tamparan ringan dari ustadz itu karena menurut ustadz itu apa yang dilakukannya sangat kurang tepat.
Mendengar ceritanya saya juga teringat dengan kisah saya sendiri, ketika itu saya mendapat tugas mengajar di daerah kemanggisan, saya juga diharuskan untuk berada disekolah tepat pukul tujuh, rumah saya yang berada di bogor juga mengharuskan saya untuk berangkat sangat pagi, begitu patuhnya saya akan jadwal tersebut.
Saya yakin ada banyak sekali kisah serupa yang terjadi di muka bumi ini, kisah yang menandakan betapa patuhnya kita sebagai manusia kepada manusia lainnya hanya karena mereka memiliki kekuasaan lebih daripada kita, kita selalu sangat ta'at hanya karena mereka membayar kita beberapa keping saja, kita selalu bersedia menjalankan perintah dari para manusia-manusia karna mereka telah membeli raga kita hanya dengan segenggam uang. padahal apa yang mereka tawarkan tidaklah banyak bahkan hanya sedikit atau bahkan sangat sangat sedikit dibandingkan dengan rizky yang Allah SWT telah berikan kepada kita.
Coba bandingkad dengan keta'atan kita kepada Allah dibandingkan dengan ketaan kita kepada manusia-manusia tadi, kita bahkan tidak pernah ingat dengan jadwal shalat yang sudah ditetapkan sejak dahulu kala, tapi betapa kita akan segera ingat dengan perubahan jadwal atau penetapan jadwal masuk kantor yang baru dibuat kemarin sore.
Kita akan dengan tergesa-gesa mempersiapkan diri untuk berangkat menuju kantor agar tidak terlambat masuk kerja tapi betapa santainya kita ketika waktu shalat itu tiba.
Begitu salah seorang teman kita terlambat datang maka kita akan dengan sangat bangga mengolok-ngolok teman kita atau bahkan mengingatkannya dengan tegas, tapi ketika saudara kita sesama muslim melakukan kemaksiatan, kita hanya akan terdiam seribu bahasa padahal kewajiban untuk saling mengingatkan adalah sangat jelas yaitu wajib.
Ingatlah wahai saudaraku, Allah tidak menawarkan pemotongan gaji bagi siapa saja yang melanggar perintahnya, Allah tidak menawarkan skorsing jika kita lalai atas perintahnya, tapi Allah tawarkan sebuah kecelakaan, sebuah siksa, sebuah siksa yang teramat pedih.
Tapi kenapa kita lebih takut gaji kita dipangkas daripada disiksa???
Allahu 'alam

Jumat, 01 Januari 2010

Setiap Orang Tua Menginginkan Yang Terbaik Untuk Anaknya


Ada seorang ibu yang selalu minum susu kesehatan ketika mengandung anaknya, bahkan kebiasaan ini tidak ditinggalkannya hingga anaknya lahir dan menyusui anaknya, sang ibu berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada sepasang suami istri yang bekerja siang dan malam, hingga mereka mempercayakan anak mereka kepada seorang pembantu dan merekapun berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Ada seorang anak yang selalu mendapatkan mainan bagus setiap bulannya, baju yang selalu baru setiap bulan, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang kehidupannya sudah terjadwal mulai dari bangun tidur hingga akan tidur, begitupula dengan jadwal belajar dan bermainnya semua sudah diatur dengan sangat rapi, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang mendapatkan kebebasan dalam waktunya, ia bisa sesuka hati belajar dan bermain sekehendaknya, orang tuanya beralasan “kebahagiaan anak adalah yang segalanya….”
Ada juga orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti berbagai ragam kursus dan les hingga membuat jadwal anaknya penuh dengan alasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada juga orang tua yang sangat peduli dengan nilai-nilai anaknya disekolah, sehingga ketika nilainya dibawah rata-rata maka dia anak memaki anak itu habis-habisan dengan harapan mereka akan berfikir, mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk saya….”
Bahkan ada juga yang sebaliknya… karna mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Semua yang orang tua lakukan apakah itu dipandang sebagai sesuatu yang buruk dimata anak ataukah tidak, mereka akan beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…” mereka berharap dengan memberikan apa yang terbaik dengan cara mereka, kelak anak-anak mereka juga bisa menjadi anak-anak yang terbaik. Memiliki sifat yang baik, kepribadian yang baik, kehidupan yang baik pula.
Tapi apakah mereka pernah berfikir bahwa apa yang mereka anggap baik itu belum tentu baik? Anak adalah manusia, dia bukan batu yang bisa dipahat atau dibentuk, ia juga bukan kayu yang bisa dijadikan apa saja, ia juga bukan gelas kosong yang bisa diisi apa saja. Lebih dari itu anak adalah makhluk yang unik, mereka belajar dari apa yang ada disekeliling mereka, mereka belajar apa itu baik, dan apa itu buruk, mereka mempunyai akal dan hati nurani, mereka bisa menilai dan merasakan sesuatu, mereka bisa berontak dan melawan dengan cara mereka sendiri.
Semua orang didunia ini pasti pernah melalui masa kanak-kanak tapi tak sedikit dari mereka yang tidak mengetahui dunia anak seolah mereka langsung diciptakan dalam keadaan dewasa, ada yang mengatakan dunia anak adalah dunia belajar sehingga muncul istilah
“belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar setelah dewasa bagai mengukir diatas air”
Atas filosofi ini tidak sedikit dari orang tua yang memaksa anak-anaknya untuk belajar ini itu.
Ada juga yang memandang anak sebagai sebuah asset, karena kelak ketika orang tua menjadi tua renta maka tidak ada yang dapat mengurus mereka kecuali anak-anak mereka, dengan alasan seperti ini mereka juga memberikan segala yang terbaik untuk anak-anaknya dengan harapan kelak anak-anaknya juga akan memberikan yang terbaik kepada mereka kelak…
Sebaiknya para orang tua tidak begitu dictator dalam menentukan apakah hal yang mereka berikan itu apakah memang yang terbaik untuk anaknya, sesuatu dipandang baik jika “menentramkan hati” apakah yang mereka berikan selama ini benar-benar menentramkan hati bagi anda, keluarga anda, lingkungan dan diri anak itu sendiri, jika ada salah satu dari pihak ini yang merasa tidak tentram maka sebaiknya anda mengkaji ulang apakah anda memang telah memberikan anak anda sebuah kebaikan atau tidak.
Apakah anda sebagai orang tua merasa telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Dan apakah anda sebagai anak benar-benar telah merasa diberikan yang terbaik oleh orang tua anda?

Playstation v.s Warnet


Kita tengah di Jajah!
Beberapa tahun yang lalu, dikampung tempat aku bersemayam, kampungku di ramaikan dengan PS alias playstation, jenis game yang sangat digandrungi dan digemari oleh semua kalangan ini mulai menancapkan kuku-kukunya dilingkungan tempat aku tinggal, tak ayal setiap orang tua muali resah dan gelisah. pasalnya ketika anak mereka pulang dari sekolah mereka lantas tidak langsung pulang kerumah melainkan mengunjungi sahabat baru mereka yakni PS2.
Kondisi ini sangat memprihatinkan karena anak-anak mulai kehilangan kendali, permainan-permainan tradisional yang biasa kita mainkan sejak kecil yang tentu banyak sekali manfa’atnya ketimbang PS mulai ditinggalkan, mereka tidak lagi mengenal gatrik, sondah, loncat, cing benteng, cing sumput, galasin dan sebagainya. Anak-anak kini hanya pandai memainkan jari jemari mereka diatas joystick ketimbang melatih kecerdasan kinestetik mereka.
Sungguh kita ini tangah di jajah… anak muda dilena kan dengan berbagai macam permainan yang membuat mereka lupa waktu, lupa belajar, lupa mengaji, lupa makan, lupa tidur bahkan lupa buang air, keadaan semakin parah ketika mereka mengidolakan para pemain yang mereka mainkan dalam games tersebut, mereka kini tidak lagi mengenal siapa Abu bakar as siddiq, umar usman atau ali, bahkan mereka tidak mengenal nabi mereka sendiri yakni nabi Muhammad SAW.
Kengerian ini tidak berhenti sampai disitu saja, mereka yang terlanjur sakau dengan berbagai permain tersebut menjadikan mereka mengikuti gaya yang ada dalam tokoh games tersebut, sebut saja harakuzu, huru hara, gaya-gaya yang meniru tokoh manga, berbagai aksosoris dan pakaian mulai dijajakan sehingga membuat generasi kita makin terlena, sungguh keadaan yang memprihatinkan…
Lalu kini di tahun 2009 yang hampir tutup usia ini, tempat dimana aku tinggal kini banyak sekali warnet-warnet berjamuran, awalnya aku sangat senang melihat keadaan ini karna kita semua tau banyak sekali manfaat internet bagi kehidupan, ketika kita kehilangan arah kita bias langsung Tanya bah google, namun ketika saya melihat fakta yang ada dilapangan ternyata kini warnet telah berubah fungsi mereka tak ubahnya seperti rental PS dimana didalamnya sudah ditanamkan games-games yang sama menjajahnya seperti PS2 betapa cerdiknya mereka menjajah bangsa ini dan betapa mudahnya kita di jajah. Sebutan warnet yang berarti warung internet sudah harus segera di ubah karena warnet kini berarti perang di internet (bermain game online)
Untuk teman-temanku yang hampir terjerumus kedalam lembah games ini segera bertobatlah, bermain game memang tidak menjadikan dosa, tapi ada banyak hal yang lebih penting selain bermain game…

Bakar Jagung


Kala itu ditanggal 31 Desember 2009 setiap orang mulai bertanya kepada saya, "ada acara kemana nich?", "gimana nich taun baruan?" saya yang sangat anti dengan acara hura-hura di tahun baru sangat jengkel sekali dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tapi untunglah ada seorang teman yang mengirimkan sebuah link situs tentang 10 kerusakan dalam perayaan tahun baru masehi spontan ketika ada orang yang bertanya tentang hal itu maka saya langsung kirimkan link artikel tersebut, ada perasaan puas ketika mengirimkan artikel tersebut berharap orang yang saya kirimi mau membaca dan mau berfikir sehingga tidak terjerumus dalam perayaan tahun baru yang biasa terjadi setiap tahunnya.
diantara sepuluh kerusakan itu ialah berikut kutipannya

***

Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!"

***

Saya baru mengetahui akan adanya hadist ini dan saya berterima kasih sekali kepada Rahmi teman saya yang telah memberikan saya pencerahan, kebiasaan begadang ini memang sering saya lakukan apalagi kalau ada kawan-kawan, kita bisa bercerita tentang segala hal hingga larut malam sampai mata membiu, membaca hadist ini membuat saya bertekad untuk tidak melakukan kebiasaan tersebut, saya akan tidur cepat agar saya bisa tahajud dimalam harinya, alangkah indahnya bila saya bisa melakukan hal yang demikian karna kebiasaan itu sudah lama sekali saya tinggalkan.

Selepas shalat isya, ketika saya hendak merapikan tempat tidur tiba-tiba seorang kawan datang, ah alamat buruk nih... sepertinya keinginan saya akan tertunda malam ini, benar saja helaian demi helaian teman-teman saya bermunculan, rupanya mereka hendak mengadakan acara dirumah saya tanpa sepengetahuan saya, mereka tidak bermaksud merayakan tahun baruan, mereka hanya ingin bakar-bakar jagung selagi banyak orang yang menjual jagung dijalan-jalan, setidaknya itulah yang mereka katakan sebagai pembelaan atas diri mereka yang mengaku sebagai orang yang anti taun baruan....



Asiiik

Setelah sekian lama tidak ngeblog karna akses internet yang cukup sulit akhirnya di awal tahun 2010 ini saya mencoba membuat account lagi dan ingin memulai kembali menulis. kalau dulu menulis saya jadikan alat untuk promosi produk tidak kuntuk sekarang, saya hanya ingin mengasah kemampuan saya dalam menulis tak peduli apakah ada orang yang mau membaca atau tidak, toh ini hanya melatih skill. lagipula tulisan-tulisan kali ini mungkin akan sangat tidak berbobot karena hanya akan berkisah seputar curhatan hati atau penuangan ide atau opini yang ada di fikiran saya.
Semoga semangat baru dalam menulis kali ini serta dengan niat yang tulus blog ini bisa tetap eksis dan menjadi hadiah bagi dunia...
Terbitkan Entri