Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

Jangan Hanya Menilai Kemampuan Anak dari Nilai-Nilainya di Sekolah

angan hanya melihat prestasi anak dari nilai.
Saya sungguh tidak percaya dengan para orang tua yang mengukur kecerdasan anaknya dari nilai hasil ulangan di sekolahnya, apalagi para orang tua itu adalah orang tua yang sibuk diluar dan tidak mengetahui perkembangan anak setiap harinya, mereka tidak melihat dan memperhatikan setiap tingkah laku atau perkataan yang keluar dari anak-anaknya.
Melalui tulisan ringan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman bahwa nilai yang anda temui pada kertas-kertas ulangan bukanlah segala-galanya.
Sebut saja Aldi nama siswa privat saya yang tinggal di daerah Jakarta timur, bagi saya dia tergolong anak yang cerdas dan pintar, hanya saja dia mempunyai sebuah masalah yaitu susah sekali di atur, ketika belajar dimulai dia tidak bisa langsung duduk manis atau bahkan menyimak dengan baik, dia akan berbicara terlebih dahulu tentang nama-nama tokoh dalam film kartun seperti naruto, sasuke, sakura, tamari atau dia akan menjelaskan tentang sebuah game dan mengupasnya dengan kosakata yang seadanya. Ketika belajarpun pembicaraannya selalu kemana-mana, dari satu buah gambar saja maka ia akan bertanya kesana kemari berkaitan dengan gambar itu, tidak seperti anak lain yang mungkin hanya akan bertanya sekali atau dua kali saja. Terkadang ia malas belajar bahkan dengan suara yang lantang dia akan berkata “aku tidak mau belajar, kenapa setiap hari harus belajar, belajar dan belajar, aku cape belajar terus!!!!” begitulah dia berucap sambil berteriak dengan mimik muka yang sinis.
Semua orang tau menghadapi anak semacam ini harus super sabar dan extra sabar, walaupun adapula yang mengatakan, “ya kamu harus tegas! Jangan sampai dia mengatur seenaknya, kalau dia tidak mau belajar masa kamu nurutin dia untuk tidak belajar” bagi saya tidaklah demikian, sekeras apapun batu kalau dia ditetesi air maka dia akan berlubang, saya tidak ingin menghantam batu dengan palu yang hanya akan menghancurkannya, saya ingin dengan pelan-pelan bisa merubahnya ke bentuk yang indah, memahatnya dari kanan dan kiri serta memolesnya menjadi rupawan.
Ketika kita belajar saya coba tanamkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur, saya ajak dia berfikir, saya selalu mengatakan bahwa Allah sang maha pencipta mencintai orang-orang yang selalu belajar dan bahwa orang yang melangkahkan kakinya untuk belajar maka akan dimudahkan jalannya kesurga, tentu saja untuk menanamkan konsep ketuhanan, surga, neraka, fahala dan dosa juga membutuhkan waktu untuk menanamkannya.
Selang 2 bulan pertengahan ulangan atau middle test tiba, beberapa nilainya jatuh tak terselamatkan, semuanya nyaris dibawah standar. Hal itu semakin membuat orang tuanya bimbang dan ragu dengan kemampuan saya mengajar dan mendidik anak, saya dijudge sebagai orang yang terlalu baik dan tidak dapat bersikap tegas dan ternyata dalam dua bulan tidak bisa merubah nilai anak menjadi lebih bagus. Memang betul saya mengakui kalau nilainya tidak lebih bagus, tapi apalah artinya nilai-nilai itu jika anak belajar hanya ketika kita ada disampingnya, apalah artinya nilai-nilai itu yang sungguh bisa dicapai hanya dengan satu malam saja dengan menghafal, apalah artinya nilai-nilai itu kalau ketika dia belajar kita harus memaksanya terlebih dahulu, apalah artinya nilai itu kalau ternyata nilai-nilai itu hanya mempersempit pemikiran dan membuatnya menjadi kerdil. Ada nilai yang sesungguhnya dimata saya lebih penting, yaitu anak itu kini mengenal arti pentingnya belajar. Setelah serangkaian proses yang rumit dan berbagai macam kejadian akhrinya anak itu mau belajar sungguh-sungguh tanpa harus dipaksa-paksa, dan kata-kata yang dulu ia ucapkan tak pernah lagi terdengar dan mungkin tidak akan pernah kudengar lagi karna Allah tidak lagi mempercayakan lagi anak ini kepadaku.
“Ya Allah, lindungilah anak ini dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya, terangilah hatinya dengan cahaya hikmahMu, jagalah ia, cerdaskanlah pikirannya dan dekaplah ia dengan kasih sayangMu, jadikan ia termasuk kedalam golongan hamba-hambamu yang berfikir” begitulah do’a yang selalu ku ucapkan untuk anak ini.

Katanya pendakwah???

Katanya mau jadi pendakwah?
Kok bangunnya kesiangan terus

Katanya mau jadi pendakwah?
Seharian kok main-main mulu

Katanya mau jadi pendakwah?
Waktu luang kok malah tiduran

Katanya mau jadi pendakwah?
Senangnya kok gosipin orang

Katanya mau jadi pendakwah?
tapi gak pernah mau belajar

Katanya mau jadi pendakwah?
Sekitarnya kok ga diperhatikan

Katanya kok mau jadi pendakwah?
Seharian kok facebookan

Katanya mau jadi pendakwah?
Bacaan nya kok ga berbobot

Katanya mau jadi pendakwah?
Nolong orang aja kok susah

Katanya mau jadi pendakwah?
Orientasinya kok materi mulu

Katanya mau jadi pendakwah?
Yang dipikirkan kok kejelekan orang lain mulu.

Katanya? katanya? katanya? namanya juga katanya.....

Sabtu, 02 Januari 2010

Begitu Mudahnya Kita Patuh Kepada Manusia


Pagi tadi sebelum berangkat bekerja, saya dan kawan saya berbincang-bincang seputar jaman baheula (masa lalu). banyak sekali yang kami obrolkan mulai dari yang ringan-ringan hingga kepada perkara yang lumayan berat, hingga tibalah ia pada sebuah cerita ketika ia bekerja disalah satu hotel dijakarta.
Ia menceritakan betapa beratnya bekerja dihotel, jadwal kerja yang mengharuskannya tiba dijakarta pukul tujuh menjadikan ia harus berangkat dari bogor pukul 4 pagi dan bangun pukul 3 dini hari, tak jarang ia melaksanakan shalat di bis karena hampir tidak ada waktu untuk hal itu, hingga suatu ketika dipagi hari yang buta ia bertemu dengan seorang ustadz yang hendak tahriman menjelang subuh iapun mendapat sedikit tamparan ringan dari ustadz itu karena menurut ustadz itu apa yang dilakukannya sangat kurang tepat.
Mendengar ceritanya saya juga teringat dengan kisah saya sendiri, ketika itu saya mendapat tugas mengajar di daerah kemanggisan, saya juga diharuskan untuk berada disekolah tepat pukul tujuh, rumah saya yang berada di bogor juga mengharuskan saya untuk berangkat sangat pagi, begitu patuhnya saya akan jadwal tersebut.
Saya yakin ada banyak sekali kisah serupa yang terjadi di muka bumi ini, kisah yang menandakan betapa patuhnya kita sebagai manusia kepada manusia lainnya hanya karena mereka memiliki kekuasaan lebih daripada kita, kita selalu sangat ta'at hanya karena mereka membayar kita beberapa keping saja, kita selalu bersedia menjalankan perintah dari para manusia-manusia karna mereka telah membeli raga kita hanya dengan segenggam uang. padahal apa yang mereka tawarkan tidaklah banyak bahkan hanya sedikit atau bahkan sangat sangat sedikit dibandingkan dengan rizky yang Allah SWT telah berikan kepada kita.
Coba bandingkad dengan keta'atan kita kepada Allah dibandingkan dengan ketaan kita kepada manusia-manusia tadi, kita bahkan tidak pernah ingat dengan jadwal shalat yang sudah ditetapkan sejak dahulu kala, tapi betapa kita akan segera ingat dengan perubahan jadwal atau penetapan jadwal masuk kantor yang baru dibuat kemarin sore.
Kita akan dengan tergesa-gesa mempersiapkan diri untuk berangkat menuju kantor agar tidak terlambat masuk kerja tapi betapa santainya kita ketika waktu shalat itu tiba.
Begitu salah seorang teman kita terlambat datang maka kita akan dengan sangat bangga mengolok-ngolok teman kita atau bahkan mengingatkannya dengan tegas, tapi ketika saudara kita sesama muslim melakukan kemaksiatan, kita hanya akan terdiam seribu bahasa padahal kewajiban untuk saling mengingatkan adalah sangat jelas yaitu wajib.
Ingatlah wahai saudaraku, Allah tidak menawarkan pemotongan gaji bagi siapa saja yang melanggar perintahnya, Allah tidak menawarkan skorsing jika kita lalai atas perintahnya, tapi Allah tawarkan sebuah kecelakaan, sebuah siksa, sebuah siksa yang teramat pedih.
Tapi kenapa kita lebih takut gaji kita dipangkas daripada disiksa???
Allahu 'alam

Jumat, 01 Januari 2010

Setiap Orang Tua Menginginkan Yang Terbaik Untuk Anaknya


Ada seorang ibu yang selalu minum susu kesehatan ketika mengandung anaknya, bahkan kebiasaan ini tidak ditinggalkannya hingga anaknya lahir dan menyusui anaknya, sang ibu berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada sepasang suami istri yang bekerja siang dan malam, hingga mereka mempercayakan anak mereka kepada seorang pembantu dan merekapun berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Ada seorang anak yang selalu mendapatkan mainan bagus setiap bulannya, baju yang selalu baru setiap bulan, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang kehidupannya sudah terjadwal mulai dari bangun tidur hingga akan tidur, begitupula dengan jadwal belajar dan bermainnya semua sudah diatur dengan sangat rapi, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang mendapatkan kebebasan dalam waktunya, ia bisa sesuka hati belajar dan bermain sekehendaknya, orang tuanya beralasan “kebahagiaan anak adalah yang segalanya….”
Ada juga orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti berbagai ragam kursus dan les hingga membuat jadwal anaknya penuh dengan alasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada juga orang tua yang sangat peduli dengan nilai-nilai anaknya disekolah, sehingga ketika nilainya dibawah rata-rata maka dia anak memaki anak itu habis-habisan dengan harapan mereka akan berfikir, mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk saya….”
Bahkan ada juga yang sebaliknya… karna mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Semua yang orang tua lakukan apakah itu dipandang sebagai sesuatu yang buruk dimata anak ataukah tidak, mereka akan beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…” mereka berharap dengan memberikan apa yang terbaik dengan cara mereka, kelak anak-anak mereka juga bisa menjadi anak-anak yang terbaik. Memiliki sifat yang baik, kepribadian yang baik, kehidupan yang baik pula.
Tapi apakah mereka pernah berfikir bahwa apa yang mereka anggap baik itu belum tentu baik? Anak adalah manusia, dia bukan batu yang bisa dipahat atau dibentuk, ia juga bukan kayu yang bisa dijadikan apa saja, ia juga bukan gelas kosong yang bisa diisi apa saja. Lebih dari itu anak adalah makhluk yang unik, mereka belajar dari apa yang ada disekeliling mereka, mereka belajar apa itu baik, dan apa itu buruk, mereka mempunyai akal dan hati nurani, mereka bisa menilai dan merasakan sesuatu, mereka bisa berontak dan melawan dengan cara mereka sendiri.
Semua orang didunia ini pasti pernah melalui masa kanak-kanak tapi tak sedikit dari mereka yang tidak mengetahui dunia anak seolah mereka langsung diciptakan dalam keadaan dewasa, ada yang mengatakan dunia anak adalah dunia belajar sehingga muncul istilah
“belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar setelah dewasa bagai mengukir diatas air”
Atas filosofi ini tidak sedikit dari orang tua yang memaksa anak-anaknya untuk belajar ini itu.
Ada juga yang memandang anak sebagai sebuah asset, karena kelak ketika orang tua menjadi tua renta maka tidak ada yang dapat mengurus mereka kecuali anak-anak mereka, dengan alasan seperti ini mereka juga memberikan segala yang terbaik untuk anak-anaknya dengan harapan kelak anak-anaknya juga akan memberikan yang terbaik kepada mereka kelak…
Sebaiknya para orang tua tidak begitu dictator dalam menentukan apakah hal yang mereka berikan itu apakah memang yang terbaik untuk anaknya, sesuatu dipandang baik jika “menentramkan hati” apakah yang mereka berikan selama ini benar-benar menentramkan hati bagi anda, keluarga anda, lingkungan dan diri anak itu sendiri, jika ada salah satu dari pihak ini yang merasa tidak tentram maka sebaiknya anda mengkaji ulang apakah anda memang telah memberikan anak anda sebuah kebaikan atau tidak.
Apakah anda sebagai orang tua merasa telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Dan apakah anda sebagai anak benar-benar telah merasa diberikan yang terbaik oleh orang tua anda?

Playstation v.s Warnet


Kita tengah di Jajah!
Beberapa tahun yang lalu, dikampung tempat aku bersemayam, kampungku di ramaikan dengan PS alias playstation, jenis game yang sangat digandrungi dan digemari oleh semua kalangan ini mulai menancapkan kuku-kukunya dilingkungan tempat aku tinggal, tak ayal setiap orang tua muali resah dan gelisah. pasalnya ketika anak mereka pulang dari sekolah mereka lantas tidak langsung pulang kerumah melainkan mengunjungi sahabat baru mereka yakni PS2.
Kondisi ini sangat memprihatinkan karena anak-anak mulai kehilangan kendali, permainan-permainan tradisional yang biasa kita mainkan sejak kecil yang tentu banyak sekali manfa’atnya ketimbang PS mulai ditinggalkan, mereka tidak lagi mengenal gatrik, sondah, loncat, cing benteng, cing sumput, galasin dan sebagainya. Anak-anak kini hanya pandai memainkan jari jemari mereka diatas joystick ketimbang melatih kecerdasan kinestetik mereka.
Sungguh kita ini tangah di jajah… anak muda dilena kan dengan berbagai macam permainan yang membuat mereka lupa waktu, lupa belajar, lupa mengaji, lupa makan, lupa tidur bahkan lupa buang air, keadaan semakin parah ketika mereka mengidolakan para pemain yang mereka mainkan dalam games tersebut, mereka kini tidak lagi mengenal siapa Abu bakar as siddiq, umar usman atau ali, bahkan mereka tidak mengenal nabi mereka sendiri yakni nabi Muhammad SAW.
Kengerian ini tidak berhenti sampai disitu saja, mereka yang terlanjur sakau dengan berbagai permain tersebut menjadikan mereka mengikuti gaya yang ada dalam tokoh games tersebut, sebut saja harakuzu, huru hara, gaya-gaya yang meniru tokoh manga, berbagai aksosoris dan pakaian mulai dijajakan sehingga membuat generasi kita makin terlena, sungguh keadaan yang memprihatinkan…
Lalu kini di tahun 2009 yang hampir tutup usia ini, tempat dimana aku tinggal kini banyak sekali warnet-warnet berjamuran, awalnya aku sangat senang melihat keadaan ini karna kita semua tau banyak sekali manfaat internet bagi kehidupan, ketika kita kehilangan arah kita bias langsung Tanya bah google, namun ketika saya melihat fakta yang ada dilapangan ternyata kini warnet telah berubah fungsi mereka tak ubahnya seperti rental PS dimana didalamnya sudah ditanamkan games-games yang sama menjajahnya seperti PS2 betapa cerdiknya mereka menjajah bangsa ini dan betapa mudahnya kita di jajah. Sebutan warnet yang berarti warung internet sudah harus segera di ubah karena warnet kini berarti perang di internet (bermain game online)
Untuk teman-temanku yang hampir terjerumus kedalam lembah games ini segera bertobatlah, bermain game memang tidak menjadikan dosa, tapi ada banyak hal yang lebih penting selain bermain game…