angan hanya melihat prestasi anak dari nilai.
Saya sungguh tidak percaya dengan para orang tua yang mengukur kecerdasan anaknya dari nilai hasil ulangan di sekolahnya, apalagi para orang tua itu adalah orang tua yang sibuk diluar dan tidak mengetahui perkembangan anak setiap harinya, mereka tidak melihat dan memperhatikan setiap tingkah laku atau perkataan yang keluar dari anak-anaknya.
Melalui tulisan ringan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman bahwa nilai yang anda temui pada kertas-kertas ulangan bukanlah segala-galanya.
Sebut saja Aldi nama siswa privat saya yang tinggal di daerah Jakarta timur, bagi saya dia tergolong anak yang cerdas dan pintar, hanya saja dia mempunyai sebuah masalah yaitu susah sekali di atur, ketika belajar dimulai dia tidak bisa langsung duduk manis atau bahkan menyimak dengan baik, dia akan berbicara terlebih dahulu tentang nama-nama tokoh dalam film kartun seperti naruto, sasuke, sakura, tamari atau dia akan menjelaskan tentang sebuah game dan mengupasnya dengan kosakata yang seadanya. Ketika belajarpun pembicaraannya selalu kemana-mana, dari satu buah gambar saja maka ia akan bertanya kesana kemari berkaitan dengan gambar itu, tidak seperti anak lain yang mungkin hanya akan bertanya sekali atau dua kali saja. Terkadang ia malas belajar bahkan dengan suara yang lantang dia akan berkata “aku tidak mau belajar, kenapa setiap hari harus belajar, belajar dan belajar, aku cape belajar terus!!!!” begitulah dia berucap sambil berteriak dengan mimik muka yang sinis.
Semua orang tau menghadapi anak semacam ini harus super sabar dan extra sabar, walaupun adapula yang mengatakan, “ya kamu harus tegas! Jangan sampai dia mengatur seenaknya, kalau dia tidak mau belajar masa kamu nurutin dia untuk tidak belajar” bagi saya tidaklah demikian, sekeras apapun batu kalau dia ditetesi air maka dia akan berlubang, saya tidak ingin menghantam batu dengan palu yang hanya akan menghancurkannya, saya ingin dengan pelan-pelan bisa merubahnya ke bentuk yang indah, memahatnya dari kanan dan kiri serta memolesnya menjadi rupawan.
Ketika kita belajar saya coba tanamkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur, saya ajak dia berfikir, saya selalu mengatakan bahwa Allah sang maha pencipta mencintai orang-orang yang selalu belajar dan bahwa orang yang melangkahkan kakinya untuk belajar maka akan dimudahkan jalannya kesurga, tentu saja untuk menanamkan konsep ketuhanan, surga, neraka, fahala dan dosa juga membutuhkan waktu untuk menanamkannya.
Selang 2 bulan pertengahan ulangan atau middle test tiba, beberapa nilainya jatuh tak terselamatkan, semuanya nyaris dibawah standar. Hal itu semakin membuat orang tuanya bimbang dan ragu dengan kemampuan saya mengajar dan mendidik anak, saya dijudge sebagai orang yang terlalu baik dan tidak dapat bersikap tegas dan ternyata dalam dua bulan tidak bisa merubah nilai anak menjadi lebih bagus. Memang betul saya mengakui kalau nilainya tidak lebih bagus, tapi apalah artinya nilai-nilai itu jika anak belajar hanya ketika kita ada disampingnya, apalah artinya nilai-nilai itu yang sungguh bisa dicapai hanya dengan satu malam saja dengan menghafal, apalah artinya nilai-nilai itu kalau ketika dia belajar kita harus memaksanya terlebih dahulu, apalah artinya nilai itu kalau ternyata nilai-nilai itu hanya mempersempit pemikiran dan membuatnya menjadi kerdil. Ada nilai yang sesungguhnya dimata saya lebih penting, yaitu anak itu kini mengenal arti pentingnya belajar. Setelah serangkaian proses yang rumit dan berbagai macam kejadian akhrinya anak itu mau belajar sungguh-sungguh tanpa harus dipaksa-paksa, dan kata-kata yang dulu ia ucapkan tak pernah lagi terdengar dan mungkin tidak akan pernah kudengar lagi karna Allah tidak lagi mempercayakan lagi anak ini kepadaku.
“Ya Allah, lindungilah anak ini dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya, terangilah hatinya dengan cahaya hikmahMu, jagalah ia, cerdaskanlah pikirannya dan dekaplah ia dengan kasih sayangMu, jadikan ia termasuk kedalam golongan hamba-hambamu yang berfikir” begitulah do’a yang selalu ku ucapkan untuk anak ini.
0 komentar:
Posting Komentar