
Ada seorang ibu yang selalu minum susu kesehatan ketika mengandung anaknya, bahkan kebiasaan ini tidak ditinggalkannya hingga anaknya lahir dan menyusui anaknya, sang ibu berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada sepasang suami istri yang bekerja siang dan malam, hingga mereka mempercayakan anak mereka kepada seorang pembantu dan merekapun berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Ada seorang anak yang selalu mendapatkan mainan bagus setiap bulannya, baju yang selalu baru setiap bulan, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang kehidupannya sudah terjadwal mulai dari bangun tidur hingga akan tidur, begitupula dengan jadwal belajar dan bermainnya semua sudah diatur dengan sangat rapi, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang mendapatkan kebebasan dalam waktunya, ia bisa sesuka hati belajar dan bermain sekehendaknya, orang tuanya beralasan “kebahagiaan anak adalah yang segalanya….”
Ada juga orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti berbagai ragam kursus dan les hingga membuat jadwal anaknya penuh dengan alasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada juga orang tua yang sangat peduli dengan nilai-nilai anaknya disekolah, sehingga ketika nilainya dibawah rata-rata maka dia anak memaki anak itu habis-habisan dengan harapan mereka akan berfikir, mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk saya….”
Bahkan ada juga yang sebaliknya… karna mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Semua yang orang tua lakukan apakah itu dipandang sebagai sesuatu yang buruk dimata anak ataukah tidak, mereka akan beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…” mereka berharap dengan memberikan apa yang terbaik dengan cara mereka, kelak anak-anak mereka juga bisa menjadi anak-anak yang terbaik. Memiliki sifat yang baik, kepribadian yang baik, kehidupan yang baik pula.
Tapi apakah mereka pernah berfikir bahwa apa yang mereka anggap baik itu belum tentu baik? Anak adalah manusia, dia bukan batu yang bisa dipahat atau dibentuk, ia juga bukan kayu yang bisa dijadikan apa saja, ia juga bukan gelas kosong yang bisa diisi apa saja. Lebih dari itu anak adalah makhluk yang unik, mereka belajar dari apa yang ada disekeliling mereka, mereka belajar apa itu baik, dan apa itu buruk, mereka mempunyai akal dan hati nurani, mereka bisa menilai dan merasakan sesuatu, mereka bisa berontak dan melawan dengan cara mereka sendiri.
Semua orang didunia ini pasti pernah melalui masa kanak-kanak tapi tak sedikit dari mereka yang tidak mengetahui dunia anak seolah mereka langsung diciptakan dalam keadaan dewasa, ada yang mengatakan dunia anak adalah dunia belajar sehingga muncul istilah
“belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar setelah dewasa bagai mengukir diatas air”
Atas filosofi ini tidak sedikit dari orang tua yang memaksa anak-anaknya untuk belajar ini itu.
Ada juga yang memandang anak sebagai sebuah asset, karena kelak ketika orang tua menjadi tua renta maka tidak ada yang dapat mengurus mereka kecuali anak-anak mereka, dengan alasan seperti ini mereka juga memberikan segala yang terbaik untuk anak-anaknya dengan harapan kelak anak-anaknya juga akan memberikan yang terbaik kepada mereka kelak…
Sebaiknya para orang tua tidak begitu dictator dalam menentukan apakah hal yang mereka berikan itu apakah memang yang terbaik untuk anaknya, sesuatu dipandang baik jika “menentramkan hati” apakah yang mereka berikan selama ini benar-benar menentramkan hati bagi anda, keluarga anda, lingkungan dan diri anak itu sendiri, jika ada salah satu dari pihak ini yang merasa tidak tentram maka sebaiknya anda mengkaji ulang apakah anda memang telah memberikan anak anda sebuah kebaikan atau tidak.
Apakah anda sebagai orang tua merasa telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Dan apakah anda sebagai anak benar-benar telah merasa diberikan yang terbaik oleh orang tua anda?
Ada sepasang suami istri yang bekerja siang dan malam, hingga mereka mempercayakan anak mereka kepada seorang pembantu dan merekapun berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Ada seorang anak yang selalu mendapatkan mainan bagus setiap bulannya, baju yang selalu baru setiap bulan, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang kehidupannya sudah terjadwal mulai dari bangun tidur hingga akan tidur, begitupula dengan jadwal belajar dan bermainnya semua sudah diatur dengan sangat rapi, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang mendapatkan kebebasan dalam waktunya, ia bisa sesuka hati belajar dan bermain sekehendaknya, orang tuanya beralasan “kebahagiaan anak adalah yang segalanya….”
Ada juga orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti berbagai ragam kursus dan les hingga membuat jadwal anaknya penuh dengan alasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada juga orang tua yang sangat peduli dengan nilai-nilai anaknya disekolah, sehingga ketika nilainya dibawah rata-rata maka dia anak memaki anak itu habis-habisan dengan harapan mereka akan berfikir, mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk saya….”
Bahkan ada juga yang sebaliknya… karna mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Semua yang orang tua lakukan apakah itu dipandang sebagai sesuatu yang buruk dimata anak ataukah tidak, mereka akan beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…” mereka berharap dengan memberikan apa yang terbaik dengan cara mereka, kelak anak-anak mereka juga bisa menjadi anak-anak yang terbaik. Memiliki sifat yang baik, kepribadian yang baik, kehidupan yang baik pula.
Tapi apakah mereka pernah berfikir bahwa apa yang mereka anggap baik itu belum tentu baik? Anak adalah manusia, dia bukan batu yang bisa dipahat atau dibentuk, ia juga bukan kayu yang bisa dijadikan apa saja, ia juga bukan gelas kosong yang bisa diisi apa saja. Lebih dari itu anak adalah makhluk yang unik, mereka belajar dari apa yang ada disekeliling mereka, mereka belajar apa itu baik, dan apa itu buruk, mereka mempunyai akal dan hati nurani, mereka bisa menilai dan merasakan sesuatu, mereka bisa berontak dan melawan dengan cara mereka sendiri.
Semua orang didunia ini pasti pernah melalui masa kanak-kanak tapi tak sedikit dari mereka yang tidak mengetahui dunia anak seolah mereka langsung diciptakan dalam keadaan dewasa, ada yang mengatakan dunia anak adalah dunia belajar sehingga muncul istilah
“belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar setelah dewasa bagai mengukir diatas air”
Atas filosofi ini tidak sedikit dari orang tua yang memaksa anak-anaknya untuk belajar ini itu.
Ada juga yang memandang anak sebagai sebuah asset, karena kelak ketika orang tua menjadi tua renta maka tidak ada yang dapat mengurus mereka kecuali anak-anak mereka, dengan alasan seperti ini mereka juga memberikan segala yang terbaik untuk anak-anaknya dengan harapan kelak anak-anaknya juga akan memberikan yang terbaik kepada mereka kelak…
Sebaiknya para orang tua tidak begitu dictator dalam menentukan apakah hal yang mereka berikan itu apakah memang yang terbaik untuk anaknya, sesuatu dipandang baik jika “menentramkan hati” apakah yang mereka berikan selama ini benar-benar menentramkan hati bagi anda, keluarga anda, lingkungan dan diri anak itu sendiri, jika ada salah satu dari pihak ini yang merasa tidak tentram maka sebaiknya anda mengkaji ulang apakah anda memang telah memberikan anak anda sebuah kebaikan atau tidak.
Apakah anda sebagai orang tua merasa telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Dan apakah anda sebagai anak benar-benar telah merasa diberikan yang terbaik oleh orang tua anda?
0 komentar:
Posting Komentar