Sabtu, 10 April 2010

Program Pembelajaran Bahasa Inggris Gratis

Gratisan... gratisan... gratisan.... Siapa sich yang gak mau gratisan! orang kaya aja kalau dikasih yang gretongan pasti gak bakalan nolak, apalagi orang yang kurang kaya? heheh peace.

Sebelumnya saya bukan mau promosi program belajar bahasa inggris gratis! program disini maksudnya sebuah software untuk belajar bahasa inggris, eits jangan pergi dulu...

Kita tau ijaman yang penuh dengan penjajahan ini bahasa inggris emang penting, berbagai macam cara dan metode telah diciptakan, termasuk software juga telah bertebaran, ada software belajar bahasa inggris untuk pemula hingga yang tingkat sangat mahir. Nah kali ini saya akan bagi-bagi sebuah software yang sangat bagus sekali, kalau ingin melihat review softwarenya bisa dilihat disini. Kalau reviewinya ingin yang lebih lengkap lagi bisa di download disini (.pdf) atau disini (.doc)

Nah kalau softwarenya sendiri terdiri dari tiga part (Part1, Part2, Part3)

Sabtu, 23 Januari 2010

Di Tugrep Polisi

Jadi inget genep bulan kalewat, nalika kuring jeng adi kuring rek meli henpon di bete'em (euh meni gaya meli henpon ka bete em, bete em teh bogor tred mol, tulisanamah Bogor Trade Mall ngan teuing hartina naon?). lah tepira henpon murah harga 250.000,-. lain kalobaan teuing duit, nupuguhmah henpon kuring nu kamari aya anu ngabadog, jadi kapaksa weh kudu meli deui, teu kunanaon murah oge nu penting mah bisa semesan. bali deui ka carita, saengges meli henpon kitu, kuring teh rek langsung berangkat kajakarta maklum tiheulamah jadi guru les bulak balik jakarta bogor teh ges teu aneh.
Karekmah kaluar ti bete em, croot kapanggih polisi teu lila sinarieun eta polisi teh ngagepayan ngan teuin arek naon, teuing arek mere duit teuing arek ngajak ngobrol pokonamah hate meni asa dag dig dug da teu sasarina eta polisi gupai gepai.
"mana sim na" jek pollisi teh ka kuring, aduh!!! haram jadah, memang bener ari jelema teh sok nanyakeun naon nu eweuh.
"eweuh! kuringmah teu boga sim" jek kuring teh bari rada nyantai.
"hor ari maneh, make motor teu mawa sim. este enka na mana?"
"este enka, aya pa... tapi poto kopianna" tembal kuring bari rada ngadegdeg ayenamah...
"ari sia! kunaon di poto kopi? atuh moal laku meren, nanaon ge di potokopi mah moal laku. cig coba duit poto kopi ku maneh, pan moal laku meren!" jek si bapa teh bari rada nyantai ayenamah...
"hey ulah salah pa, teu sagalan nu di poto kopi teu laku, katepe di poto kopi laku keneh"
"heuh lah kumaha maneh, ges mana coba katepe maneh?" jek polisi teh, pasti da embung eleh..
"yeuh....." jek kuring teh bari mikeun katepe kuring.
"Oh Ahmad nya ngarana... adi maneh kunaon teu make helem?"
"biasana ge tara pa... kamari kuring di bonceng teu pake helem hare-hare wae, ewuh nu nilang, oh kuring nyaho... emang tanggal bara sih ayeuna? tanggal kolot meren nya?" kuring nyorocos weh bakat ku kesel.
"sttt ari maneh, ulah culangung!!! yeuh duit mah loba keneh" jek si polisi teh bari nunjukeun kantongna anu pinuh ku kertas


Jumat, 22 Januari 2010

Dasar Barudak

Heueuh nya dasar barudak... ngarana ge budak.
Poe jum'at harita ker urang jaga warnet di cibalagung, sa enggeus urang sholat jum'at aya barudak anu ngariung-riung si kiki, sugan teh aya naon, sing horeng teh eta budak maleuli pocer (pocer teh kawas kartu lamun urang arek meli pulsa ka konter, hargana mimiti sapuluh rebu nepi ka saratus rebu) ngan jeng naon eta pocer teh, cenahmah jek barudakmah jeng maen gem pebe (point blank baca poin bleng) ke si eta pocer teh di pake meli senjata, kayaning bedil jeng sajabana.
Aya-aya wae nya jaman ayeunamah, sagala meli senjata ge kudu ku pocer, baheulamah urang keur letik, bebedilan teh nyarieun sorangan tina awi, ditelian ku karet make weh peluruna tina kembang cinciat. euh lamun di jetot keun kana mata teh lumayan perih... tapi naha budak ayeuna, kabisa na teh ngan sa ukur meakeun duit kolotna, sagala arek main gem oge kudu meli pocer, pan pocer teh meulina ku duit mereunan.
Ah nu puguhmah urang teh ker di jajah, lamun lain gara-gara gem anu arasup ka lembur urang, moal weh barudak urang teh matak apal gem-gem anu eweuh hartina.

Kamis, 21 Januari 2010

Ini Semua Tentang Mimpi


Suatu ketika dimalam yang teramat dingin, ketika aku berada sangat jauh dari orang tuaku aku bermimpi.
"aku berada disebuah lapangan yang tidak begitu luas, mungkin hanya seluas lapangan tenis, lapangan itu ditutupi puzzle tembok yang tersusun sangat rapi, ada sekitar 7 orang berkumpul disana. Aku tidak tau apa yang sedang mereka lakukan hanya saja mata mereka tertuju padaku, rupanya saat itu aku sedang menjadi pusat perhatian dan tiba-tiba sepasang sayap muncul dibelakang punggungku, seketika itu langsung mencoba untuk terbang dan perlahan tubuhku mulai terangkat hingga akhirnya aku benar-benar melayang, tinggi.... tinggi... sekali, ketika aku menolehkan mataku ke arah sekumpulan orang itu mereka terlihat begitu takjub hingga beberapa detik kemudian tiba-tiba saja aku terjatuh hingga tubuhku terhempas kelapangan, hanya saja lapangan itu kini berubah menjadi kubangan lumpur yang menjijikan."
"aku miris mendapati diriku yang kotor dibalut lumpur, aku mencoba bangkit kembali dan mencoba untuk terbang dengan sayapku yang kini telah ditutupi lumpur, berkali-kali aku mencoba untuk terbang dan sebanyak itu pula aku terjatuh hingga akhirnya aku terbangun...."
Ada yang aneh dari mimpi ini, mimpi yang menurut sebagian orang hanya sebagai bunga tidur, bagiku seperti sebuah kabar berita. Aku merasakan adanya sebuah informasi yang tersimpan dari mimpi itu, sebuah informasi yang tidak bisa aku terima. Aku mulai menafsirkan mimpi-mimpi itu sebisaku, aku memikirkan setiap kejadian yang ada dimimpi itu hingga pada akhirnya aku berkesimpulan "akan sangat sulit sekali bagiku untuk meraih setiap mimpiku, berulang kali aku mencoba untuk menggapainya maka sebanyak itu pula aku akan terjatuh dan merasa gagal"
Aku tidak tau dari mana aku mendapat kesimpulan seperti itu, kesimpulan itu bukan hanya membunuhku tapi juga membuat hidupku tak bermakna, seakan setiap kegagaln senantiasa mengancamku, aku merasa akan ada puluhan kali kegagalan dalam hidupku hingga aku benar-benar lelah dan tak pernah bisa menggapai mimpiku itu. Aku terlarut dalam mimpi buruk itu...
Aku terlarut dalam kesimpulan yang tidak seharusnya aku buat hingga akhirnya aku benar-benar mengalami itu semua dalam kehidupan nyata...

Sabtu, 16 Januari 2010

Jangan Hanya Menilai Kemampuan Anak dari Nilai-Nilainya di Sekolah

angan hanya melihat prestasi anak dari nilai.
Saya sungguh tidak percaya dengan para orang tua yang mengukur kecerdasan anaknya dari nilai hasil ulangan di sekolahnya, apalagi para orang tua itu adalah orang tua yang sibuk diluar dan tidak mengetahui perkembangan anak setiap harinya, mereka tidak melihat dan memperhatikan setiap tingkah laku atau perkataan yang keluar dari anak-anaknya.
Melalui tulisan ringan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman bahwa nilai yang anda temui pada kertas-kertas ulangan bukanlah segala-galanya.
Sebut saja Aldi nama siswa privat saya yang tinggal di daerah Jakarta timur, bagi saya dia tergolong anak yang cerdas dan pintar, hanya saja dia mempunyai sebuah masalah yaitu susah sekali di atur, ketika belajar dimulai dia tidak bisa langsung duduk manis atau bahkan menyimak dengan baik, dia akan berbicara terlebih dahulu tentang nama-nama tokoh dalam film kartun seperti naruto, sasuke, sakura, tamari atau dia akan menjelaskan tentang sebuah game dan mengupasnya dengan kosakata yang seadanya. Ketika belajarpun pembicaraannya selalu kemana-mana, dari satu buah gambar saja maka ia akan bertanya kesana kemari berkaitan dengan gambar itu, tidak seperti anak lain yang mungkin hanya akan bertanya sekali atau dua kali saja. Terkadang ia malas belajar bahkan dengan suara yang lantang dia akan berkata “aku tidak mau belajar, kenapa setiap hari harus belajar, belajar dan belajar, aku cape belajar terus!!!!” begitulah dia berucap sambil berteriak dengan mimik muka yang sinis.
Semua orang tau menghadapi anak semacam ini harus super sabar dan extra sabar, walaupun adapula yang mengatakan, “ya kamu harus tegas! Jangan sampai dia mengatur seenaknya, kalau dia tidak mau belajar masa kamu nurutin dia untuk tidak belajar” bagi saya tidaklah demikian, sekeras apapun batu kalau dia ditetesi air maka dia akan berlubang, saya tidak ingin menghantam batu dengan palu yang hanya akan menghancurkannya, saya ingin dengan pelan-pelan bisa merubahnya ke bentuk yang indah, memahatnya dari kanan dan kiri serta memolesnya menjadi rupawan.
Ketika kita belajar saya coba tanamkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur, saya ajak dia berfikir, saya selalu mengatakan bahwa Allah sang maha pencipta mencintai orang-orang yang selalu belajar dan bahwa orang yang melangkahkan kakinya untuk belajar maka akan dimudahkan jalannya kesurga, tentu saja untuk menanamkan konsep ketuhanan, surga, neraka, fahala dan dosa juga membutuhkan waktu untuk menanamkannya.
Selang 2 bulan pertengahan ulangan atau middle test tiba, beberapa nilainya jatuh tak terselamatkan, semuanya nyaris dibawah standar. Hal itu semakin membuat orang tuanya bimbang dan ragu dengan kemampuan saya mengajar dan mendidik anak, saya dijudge sebagai orang yang terlalu baik dan tidak dapat bersikap tegas dan ternyata dalam dua bulan tidak bisa merubah nilai anak menjadi lebih bagus. Memang betul saya mengakui kalau nilainya tidak lebih bagus, tapi apalah artinya nilai-nilai itu jika anak belajar hanya ketika kita ada disampingnya, apalah artinya nilai-nilai itu yang sungguh bisa dicapai hanya dengan satu malam saja dengan menghafal, apalah artinya nilai-nilai itu kalau ketika dia belajar kita harus memaksanya terlebih dahulu, apalah artinya nilai itu kalau ternyata nilai-nilai itu hanya mempersempit pemikiran dan membuatnya menjadi kerdil. Ada nilai yang sesungguhnya dimata saya lebih penting, yaitu anak itu kini mengenal arti pentingnya belajar. Setelah serangkaian proses yang rumit dan berbagai macam kejadian akhrinya anak itu mau belajar sungguh-sungguh tanpa harus dipaksa-paksa, dan kata-kata yang dulu ia ucapkan tak pernah lagi terdengar dan mungkin tidak akan pernah kudengar lagi karna Allah tidak lagi mempercayakan lagi anak ini kepadaku.
“Ya Allah, lindungilah anak ini dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya, terangilah hatinya dengan cahaya hikmahMu, jagalah ia, cerdaskanlah pikirannya dan dekaplah ia dengan kasih sayangMu, jadikan ia termasuk kedalam golongan hamba-hambamu yang berfikir” begitulah do’a yang selalu ku ucapkan untuk anak ini.

Katanya pendakwah???

Katanya mau jadi pendakwah?
Kok bangunnya kesiangan terus

Katanya mau jadi pendakwah?
Seharian kok main-main mulu

Katanya mau jadi pendakwah?
Waktu luang kok malah tiduran

Katanya mau jadi pendakwah?
Senangnya kok gosipin orang

Katanya mau jadi pendakwah?
tapi gak pernah mau belajar

Katanya mau jadi pendakwah?
Sekitarnya kok ga diperhatikan

Katanya kok mau jadi pendakwah?
Seharian kok facebookan

Katanya mau jadi pendakwah?
Bacaan nya kok ga berbobot

Katanya mau jadi pendakwah?
Nolong orang aja kok susah

Katanya mau jadi pendakwah?
Orientasinya kok materi mulu

Katanya mau jadi pendakwah?
Yang dipikirkan kok kejelekan orang lain mulu.

Katanya? katanya? katanya? namanya juga katanya.....

Jumat, 15 Januari 2010

Kegilaan Facebook


Suatu ketika temanku bilang dengan amat bangga karna dia udah punya banyak teman di efbe, katanya sih orang lain yang pada nge add dia... hatinya makin dipenuhi semacam kesombongan mungkin karena temannya itu telah mencapai lebih dari seribu. jujur aja akupun takjub dengan prestasi yang udah dibuatnya itu, gilee aja, gw aja yang udah melanglang buana di dunia maya sejak taun 2008 cuma punya seratus teman, masa dia yang baru kemarin sore udah punya seribu lebih... agak ngiri juga sih, tapi ga ada gunanya ngiri dengan hal begituan.
Hebatnya temanku ini, di bikin tuh efbe dengan sebuah tujuan... "dakwah" katanya, berdakwah lewat efbe katanya lebih mudah ketimbang berdakwah dikampung-kampung yang harus pake podium atau di mesjid-mesjid dan selalu bikin boring, tapi dengan efbe, bisa lewat tautan, catatan, video atau apalah yang kiranya orang mau liat, yang jelas itu bagian dari cara dakwah, katanya!!!!!
Alhasil.. hari-harinya gak pernah dilewatkan tanpa efbe, lagunya 'online' ala saykoji kayaknya cucok banget buat beliau, tiada hari tanpa efbe, seharin nongkoring efbe demi membalas komentar yang berataburan dan bales pesan-pesan yang masuk ke inbox yangkatanya lumayan bikin pusing juga. kalo dipikir-pikir, kayaknya ini penyakit yang udah akut, cara dia berdakwah lewat efbe emang ga bisa disalahkan, tapi bagaimana dia memperlakukan efbe sungguh sangat keterlaluan... parahnya, ia hampir saja meminum minuman yang dipenuhi semut gara-gara matanya terus tertuju kelayar komputer demi sebongkah efbe. parah!
Buat teman-temanku, hati-hati aja yaa... jangan sampai penyakit ini juga menjangkiti kalian, niat yang tadinya disebut ibadah bisa aja jadi ga ada artinya alias ga berfahala kalau salah langkahnya...
bukan bermaksud menasehati, cuma ingin berbagi cerita...

Sabtu, 02 Januari 2010

Begitu Mudahnya Kita Patuh Kepada Manusia


Pagi tadi sebelum berangkat bekerja, saya dan kawan saya berbincang-bincang seputar jaman baheula (masa lalu). banyak sekali yang kami obrolkan mulai dari yang ringan-ringan hingga kepada perkara yang lumayan berat, hingga tibalah ia pada sebuah cerita ketika ia bekerja disalah satu hotel dijakarta.
Ia menceritakan betapa beratnya bekerja dihotel, jadwal kerja yang mengharuskannya tiba dijakarta pukul tujuh menjadikan ia harus berangkat dari bogor pukul 4 pagi dan bangun pukul 3 dini hari, tak jarang ia melaksanakan shalat di bis karena hampir tidak ada waktu untuk hal itu, hingga suatu ketika dipagi hari yang buta ia bertemu dengan seorang ustadz yang hendak tahriman menjelang subuh iapun mendapat sedikit tamparan ringan dari ustadz itu karena menurut ustadz itu apa yang dilakukannya sangat kurang tepat.
Mendengar ceritanya saya juga teringat dengan kisah saya sendiri, ketika itu saya mendapat tugas mengajar di daerah kemanggisan, saya juga diharuskan untuk berada disekolah tepat pukul tujuh, rumah saya yang berada di bogor juga mengharuskan saya untuk berangkat sangat pagi, begitu patuhnya saya akan jadwal tersebut.
Saya yakin ada banyak sekali kisah serupa yang terjadi di muka bumi ini, kisah yang menandakan betapa patuhnya kita sebagai manusia kepada manusia lainnya hanya karena mereka memiliki kekuasaan lebih daripada kita, kita selalu sangat ta'at hanya karena mereka membayar kita beberapa keping saja, kita selalu bersedia menjalankan perintah dari para manusia-manusia karna mereka telah membeli raga kita hanya dengan segenggam uang. padahal apa yang mereka tawarkan tidaklah banyak bahkan hanya sedikit atau bahkan sangat sangat sedikit dibandingkan dengan rizky yang Allah SWT telah berikan kepada kita.
Coba bandingkad dengan keta'atan kita kepada Allah dibandingkan dengan ketaan kita kepada manusia-manusia tadi, kita bahkan tidak pernah ingat dengan jadwal shalat yang sudah ditetapkan sejak dahulu kala, tapi betapa kita akan segera ingat dengan perubahan jadwal atau penetapan jadwal masuk kantor yang baru dibuat kemarin sore.
Kita akan dengan tergesa-gesa mempersiapkan diri untuk berangkat menuju kantor agar tidak terlambat masuk kerja tapi betapa santainya kita ketika waktu shalat itu tiba.
Begitu salah seorang teman kita terlambat datang maka kita akan dengan sangat bangga mengolok-ngolok teman kita atau bahkan mengingatkannya dengan tegas, tapi ketika saudara kita sesama muslim melakukan kemaksiatan, kita hanya akan terdiam seribu bahasa padahal kewajiban untuk saling mengingatkan adalah sangat jelas yaitu wajib.
Ingatlah wahai saudaraku, Allah tidak menawarkan pemotongan gaji bagi siapa saja yang melanggar perintahnya, Allah tidak menawarkan skorsing jika kita lalai atas perintahnya, tapi Allah tawarkan sebuah kecelakaan, sebuah siksa, sebuah siksa yang teramat pedih.
Tapi kenapa kita lebih takut gaji kita dipangkas daripada disiksa???
Allahu 'alam

Jumat, 01 Januari 2010

Setiap Orang Tua Menginginkan Yang Terbaik Untuk Anaknya


Ada seorang ibu yang selalu minum susu kesehatan ketika mengandung anaknya, bahkan kebiasaan ini tidak ditinggalkannya hingga anaknya lahir dan menyusui anaknya, sang ibu berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada sepasang suami istri yang bekerja siang dan malam, hingga mereka mempercayakan anak mereka kepada seorang pembantu dan merekapun berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Ada seorang anak yang selalu mendapatkan mainan bagus setiap bulannya, baju yang selalu baru setiap bulan, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang kehidupannya sudah terjadwal mulai dari bangun tidur hingga akan tidur, begitupula dengan jadwal belajar dan bermainnya semua sudah diatur dengan sangat rapi, kedua orang tuanya juga berkata “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Adapula anak yang mendapatkan kebebasan dalam waktunya, ia bisa sesuka hati belajar dan bermain sekehendaknya, orang tuanya beralasan “kebahagiaan anak adalah yang segalanya….”
Ada juga orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti berbagai ragam kursus dan les hingga membuat jadwal anaknya penuh dengan alasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya….”
Ada juga orang tua yang sangat peduli dengan nilai-nilai anaknya disekolah, sehingga ketika nilainya dibawah rata-rata maka dia anak memaki anak itu habis-habisan dengan harapan mereka akan berfikir, mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk saya….”
Bahkan ada juga yang sebaliknya… karna mereka juga beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…”
Semua yang orang tua lakukan apakah itu dipandang sebagai sesuatu yang buruk dimata anak ataukah tidak, mereka akan beralasan “saya ingin yang terbaik untuk anak saya…” mereka berharap dengan memberikan apa yang terbaik dengan cara mereka, kelak anak-anak mereka juga bisa menjadi anak-anak yang terbaik. Memiliki sifat yang baik, kepribadian yang baik, kehidupan yang baik pula.
Tapi apakah mereka pernah berfikir bahwa apa yang mereka anggap baik itu belum tentu baik? Anak adalah manusia, dia bukan batu yang bisa dipahat atau dibentuk, ia juga bukan kayu yang bisa dijadikan apa saja, ia juga bukan gelas kosong yang bisa diisi apa saja. Lebih dari itu anak adalah makhluk yang unik, mereka belajar dari apa yang ada disekeliling mereka, mereka belajar apa itu baik, dan apa itu buruk, mereka mempunyai akal dan hati nurani, mereka bisa menilai dan merasakan sesuatu, mereka bisa berontak dan melawan dengan cara mereka sendiri.
Semua orang didunia ini pasti pernah melalui masa kanak-kanak tapi tak sedikit dari mereka yang tidak mengetahui dunia anak seolah mereka langsung diciptakan dalam keadaan dewasa, ada yang mengatakan dunia anak adalah dunia belajar sehingga muncul istilah
“belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar setelah dewasa bagai mengukir diatas air”
Atas filosofi ini tidak sedikit dari orang tua yang memaksa anak-anaknya untuk belajar ini itu.
Ada juga yang memandang anak sebagai sebuah asset, karena kelak ketika orang tua menjadi tua renta maka tidak ada yang dapat mengurus mereka kecuali anak-anak mereka, dengan alasan seperti ini mereka juga memberikan segala yang terbaik untuk anak-anaknya dengan harapan kelak anak-anaknya juga akan memberikan yang terbaik kepada mereka kelak…
Sebaiknya para orang tua tidak begitu dictator dalam menentukan apakah hal yang mereka berikan itu apakah memang yang terbaik untuk anaknya, sesuatu dipandang baik jika “menentramkan hati” apakah yang mereka berikan selama ini benar-benar menentramkan hati bagi anda, keluarga anda, lingkungan dan diri anak itu sendiri, jika ada salah satu dari pihak ini yang merasa tidak tentram maka sebaiknya anda mengkaji ulang apakah anda memang telah memberikan anak anda sebuah kebaikan atau tidak.
Apakah anda sebagai orang tua merasa telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Dan apakah anda sebagai anak benar-benar telah merasa diberikan yang terbaik oleh orang tua anda?

Playstation v.s Warnet


Kita tengah di Jajah!
Beberapa tahun yang lalu, dikampung tempat aku bersemayam, kampungku di ramaikan dengan PS alias playstation, jenis game yang sangat digandrungi dan digemari oleh semua kalangan ini mulai menancapkan kuku-kukunya dilingkungan tempat aku tinggal, tak ayal setiap orang tua muali resah dan gelisah. pasalnya ketika anak mereka pulang dari sekolah mereka lantas tidak langsung pulang kerumah melainkan mengunjungi sahabat baru mereka yakni PS2.
Kondisi ini sangat memprihatinkan karena anak-anak mulai kehilangan kendali, permainan-permainan tradisional yang biasa kita mainkan sejak kecil yang tentu banyak sekali manfa’atnya ketimbang PS mulai ditinggalkan, mereka tidak lagi mengenal gatrik, sondah, loncat, cing benteng, cing sumput, galasin dan sebagainya. Anak-anak kini hanya pandai memainkan jari jemari mereka diatas joystick ketimbang melatih kecerdasan kinestetik mereka.
Sungguh kita ini tangah di jajah… anak muda dilena kan dengan berbagai macam permainan yang membuat mereka lupa waktu, lupa belajar, lupa mengaji, lupa makan, lupa tidur bahkan lupa buang air, keadaan semakin parah ketika mereka mengidolakan para pemain yang mereka mainkan dalam games tersebut, mereka kini tidak lagi mengenal siapa Abu bakar as siddiq, umar usman atau ali, bahkan mereka tidak mengenal nabi mereka sendiri yakni nabi Muhammad SAW.
Kengerian ini tidak berhenti sampai disitu saja, mereka yang terlanjur sakau dengan berbagai permain tersebut menjadikan mereka mengikuti gaya yang ada dalam tokoh games tersebut, sebut saja harakuzu, huru hara, gaya-gaya yang meniru tokoh manga, berbagai aksosoris dan pakaian mulai dijajakan sehingga membuat generasi kita makin terlena, sungguh keadaan yang memprihatinkan…
Lalu kini di tahun 2009 yang hampir tutup usia ini, tempat dimana aku tinggal kini banyak sekali warnet-warnet berjamuran, awalnya aku sangat senang melihat keadaan ini karna kita semua tau banyak sekali manfaat internet bagi kehidupan, ketika kita kehilangan arah kita bias langsung Tanya bah google, namun ketika saya melihat fakta yang ada dilapangan ternyata kini warnet telah berubah fungsi mereka tak ubahnya seperti rental PS dimana didalamnya sudah ditanamkan games-games yang sama menjajahnya seperti PS2 betapa cerdiknya mereka menjajah bangsa ini dan betapa mudahnya kita di jajah. Sebutan warnet yang berarti warung internet sudah harus segera di ubah karena warnet kini berarti perang di internet (bermain game online)
Untuk teman-temanku yang hampir terjerumus kedalam lembah games ini segera bertobatlah, bermain game memang tidak menjadikan dosa, tapi ada banyak hal yang lebih penting selain bermain game…

Bakar Jagung


Kala itu ditanggal 31 Desember 2009 setiap orang mulai bertanya kepada saya, "ada acara kemana nich?", "gimana nich taun baruan?" saya yang sangat anti dengan acara hura-hura di tahun baru sangat jengkel sekali dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tapi untunglah ada seorang teman yang mengirimkan sebuah link situs tentang 10 kerusakan dalam perayaan tahun baru masehi spontan ketika ada orang yang bertanya tentang hal itu maka saya langsung kirimkan link artikel tersebut, ada perasaan puas ketika mengirimkan artikel tersebut berharap orang yang saya kirimi mau membaca dan mau berfikir sehingga tidak terjerumus dalam perayaan tahun baru yang biasa terjadi setiap tahunnya.
diantara sepuluh kerusakan itu ialah berikut kutipannya

***

Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!"

***

Saya baru mengetahui akan adanya hadist ini dan saya berterima kasih sekali kepada Rahmi teman saya yang telah memberikan saya pencerahan, kebiasaan begadang ini memang sering saya lakukan apalagi kalau ada kawan-kawan, kita bisa bercerita tentang segala hal hingga larut malam sampai mata membiu, membaca hadist ini membuat saya bertekad untuk tidak melakukan kebiasaan tersebut, saya akan tidur cepat agar saya bisa tahajud dimalam harinya, alangkah indahnya bila saya bisa melakukan hal yang demikian karna kebiasaan itu sudah lama sekali saya tinggalkan.

Selepas shalat isya, ketika saya hendak merapikan tempat tidur tiba-tiba seorang kawan datang, ah alamat buruk nih... sepertinya keinginan saya akan tertunda malam ini, benar saja helaian demi helaian teman-teman saya bermunculan, rupanya mereka hendak mengadakan acara dirumah saya tanpa sepengetahuan saya, mereka tidak bermaksud merayakan tahun baruan, mereka hanya ingin bakar-bakar jagung selagi banyak orang yang menjual jagung dijalan-jalan, setidaknya itulah yang mereka katakan sebagai pembelaan atas diri mereka yang mengaku sebagai orang yang anti taun baruan....



Asiiik

Setelah sekian lama tidak ngeblog karna akses internet yang cukup sulit akhirnya di awal tahun 2010 ini saya mencoba membuat account lagi dan ingin memulai kembali menulis. kalau dulu menulis saya jadikan alat untuk promosi produk tidak kuntuk sekarang, saya hanya ingin mengasah kemampuan saya dalam menulis tak peduli apakah ada orang yang mau membaca atau tidak, toh ini hanya melatih skill. lagipula tulisan-tulisan kali ini mungkin akan sangat tidak berbobot karena hanya akan berkisah seputar curhatan hati atau penuangan ide atau opini yang ada di fikiran saya.
Semoga semangat baru dalam menulis kali ini serta dengan niat yang tulus blog ini bisa tetap eksis dan menjadi hadiah bagi dunia...
Terbitkan Entri